Jejaksanggau.com//Sanggau, 5 Agustus 2025 – Di tengah derasnya arus digitalisasi dan perubahan dunia media yang begitu cepat, masih ada sosok jurnalis yang tetap bertahan, konsisten mengabarkan kebenaran dan menyuarakan kepentingan publik. Dia bukan sekadar peliput berita, tetapi saksi sejarah yang telah menyusuri jejak perubahan zaman dari era cetak hingga era digital.
Namanya dikenal luas di kalangan jurnalis lokal dan regional. Sosoknya sederhana, namun idealismenya tajam dan tak lekang oleh waktu. Lebih dari dua dekade ia mendedikasikan diri untuk dunia jurnalistik, meliput isu sosial, politik, pembangunan, hingga konflik agraria di pelosok-pelosok Kalimantan Barat, khususnya di Kabupaten Sanggau.
Memulai kariernya di awal tahun 2000-an, ia menembus kerasnya dunia media cetak dengan hanya bermodal semangat dan pena. Saat era media daring mulai menggantikan media konvensional, ia tak tinggal diam. Ia beradaptasi, membangun jejaring, bahkan menginisiasi media berbasis komunitas sebagai ruang informasi dan edukasi masyarakat.
“Menjadi jurnalis bukan sekadar profesi, tapi jalan hidup. Kita hadir untuk mencatat sejarah dan menjadi jembatan antara rakyat dan pengambil kebijakan,” ujarnya dalam satu wawancara.
Di tengah tekanan ekonomi, perubahan algoritma media sosial, serta tantangan integritas di dunia pers, ia tetap teguh menjaga idealisme. Ia memilih untuk tetap eksis tanpa harus tunduk pada tekanan politik atau kepentingan sesaat.
Kini, di usianya yang tak lagi muda, ia masih aktif menulis, membimbing jurnalis muda, dan terus menjadi motor penggerak literasi media di daerah. Perjalanan panjangnya menjadi bukti bahwa dunia jurnalistik sejatinya dibangun bukan hanya dengan teknologi, tapi dengan keberanian, kejujuran, dan ketulusan.
Kisahnya menginspirasi—bahwa dalam dunia yang terus berubah, masih ada jurnalis yang memilih bertahan, bekerja dalam senyap, dan tetap menyala.( Red )
Publis : per







