Kalbar – Jejaksanggau.com,Di tanah Kalimantan Barat, di mana tinta seharusnya menjadi senjata kebenaran, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kalbar justru dilanda gelombang konflik. Bukan sekadar riak kecil, melainkan badai yang mengguncang fondasi persatuan.
Kisah ini bermula dari upaya Hendry Chairudin Bangun, petinggi PWI Pusat, yang berusaha menjahit kembali robekan di tubuh organisasi. Melalui kompromi, ia menetapkan bahwa kongres tetap mengacu pada Daftar Pemilih Tetap Kongres Bandung. Ketua Bidang UKW, Aat Surya Safaat, pun menegaskan bahwa penunjukan Pelaksana Tugas (Plt) bukan berarti ilegal.
Namun kenyataan tak selalu tunduk pada niat baik. Plt di berbagai daerah justru terpinggirkan—hanya Banten yang mendapat ruang. Sebuah ironi yang menyisakan tanda tanya.
Di tengah pusaran ini, nama Kundori, mantan Ketua PWI Kalbar, muncul sebagai figur dengan ambisi besar. Tapi langkahnya terhenti ketika SK PWI Pusat Nomor: 133-PGS/A/PP-PWI/II/2025 terbit. Keputusan itu mencopot dirinya dan menunjuk Wawan Suwandi sebagai Plt Ketua PWI Kalbar.
Bagi Kundori, ini ibarat palu godam yang meruntuhkan mimpi. Sementara bagi Wawan, jabatan ini adalah beban sekaligus ujian—membawa perahu organisasi melewati badai intrik, konflik internal, dan tekanan eksternal.
Suara bijak sempat terdengar dari Dewan Pakar PWI, Maman Suratman, yang mengingatkan: “Jangan ambisius. Jangan buat pernyataan menyesatkan publik.” Tapi pesan itu bagai bisikan di tengah gemuruh ombak—nyaris tak terdengar.
Drama di PWI Kalbar belum usai. Perebutan kendali masih berlangsung, dan masa depan organisasi tergantung pada satu pertanyaan: akankah persatuan terwujud kembali, atau justru perpecahan menjadi bab berikutnya?
Sumber : wansd







